Jangan jauh-jauh dariku ya Bu..

Cerpen ibu
Cerpen ibu














Jangan jauh-jauh dariku ya Bu..

Sebagai laki-laki dan anak pertama, namun sejak kecil bisa dibilang aku memang sangat manja. Kerasnya didikan ayahku membuatku selalu menjadikan ibuku sebagai tameng. Setiap kali ayahku mulai marah, aku langsung mendekati ibuku, berharap ibu segera meredam amarahnya. Hal tersebut nampaknya telah menjadi kebiasaan, bahkan hingga aku duduk di bangku SMA.

Sejak SMA, sepulang sekolah aku sering ikut sepupuku mengamen dari bis ke bis di sekitar Jakarta Pusat. Kondisi ekonomi mengetuk hatiku untuk sedikit meringankan beban ayahku yang hanya pengemudi Taxi. Hasil mengamen yang tak seberapa selalu kusisihkan untuk mengangsur iuran sekolahku. Sebagian ku berikan ibuku untuk menambah uang belanja dirumah, uang saku ala kadarnya untuk ketiga adik-adikku, dan tak lupa beberapa sekotak martabak keju kesukaan ibuku. Pada awalnya, semua uang yang kudapat dari mengamen selalu kuhabiskan untuk jajan dan keperluanku sendiri, hingga akhirnya sepupuku menasehati untuk jangan lupa berbagi dengan adik-adik, dan terutama orang tua. Ayahku tak pernah mau menerima uangku, beliau tak pernah tega melihatku turut mencari nafkah kendatipun penghasilannya memang pas-pasan.

Menjelang EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) atau sekarang disebut UAN (Ujian Akhir Nasional), ibuku terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena sakit kanker payudara yang konon kata ayahku dulu sudah pernah dioperasi ternyata belum bersih tuntas dan kini semakin besar dan semakin menyiksa ibuku. Di rumah sakit, dokter memberikan pilihan untuk operasi dengan biaya puluhan juta atau rawat jalan namun prosesnya akan memakan waktu cukup lama, belum lagi persentase untuk sembuh dengan metode ini hanya sekitar 10%. Tanpa berpikir panjang, ibuku langsung bilang kepada ayah untuk pulang saja, “Ibu sudah nggak apa-apa kok Pak, sakitnya sudah hilang..”. Baik ayah maupun aku, spontan langsung berpikir bahwa ibu pasti bilang begitu karena tidak mau membebani ayahku untuk mencari ratusan juta demi operasi mengangkat kanker di payudaranya, namun dengan setengah ragu ayahku mengangguk dan segera membawa ibu pulang.

Sesampainya dirumah, entah apakah ibu sudah tidak merasakan lagi penyakitnya ataukah ibu menahan-nahan rasa sakitnya, tapi memang sejak itu ibuku kembali beraktifitas seperti biasa lagi layaknya orang sehat. Walau kadang pertanyaan itu masih sering terbesit, namun paling tidak sedikit mengurangi kekhawatiranku dan akupun bisa kembali fokus belajar untuk menghadapi EBTANAS.

Beberapa bulan berlalu, dan memang sudah tak pernah lagi terlihat tanda-tanda penyakit ibuku. Akupun telah menyelesaikan SMA ku dengan nilai cukup memuaskan. Dan tibalah saatnya aku melanjutkan jenjang pendidikanku ke perguruan tinggi, dengan harapan jika aku menjadi sarjana nanti, aku ingin mencari pekerjaan yang layak, dengan gaji yang tinggi, agar ayahku tak perlu lagi jadi supir taxi, ibuku bisa makan martabak kesukaannya setiap hari, dan adik-adikku juga bisa kusekolahkan hingga jadi sarjana juga agar hidup mereka mapan dan nyaman. Namun angan-angan itu terpaksa kusimpan dalam-dalam, karena setelah aku mendatangi universitas yang kuimpikan, ternyata biaya masuknya sangat mahal. Sempat aku bicarakan masalah ini dengan ibuku, namun takkan berani aku menyampaikannya ke ayahku. Selain takut beliau justru jadi marah dan balik menasehatiku lalu menyuruhku mengaca, aku juga tak mau impianku ini membebani pikirannya. Lebih baik kini ayahku konsentrasi ke biaya sekolah adik-adikku yang masih panjang perjalanannya dibanding harus memaksakan agar aku bisa kuliah.

Curhat kecil dengan ibuku masalah keinginanku untuk kuliah ternyata sampai juga di telinga ayahku. Harusnya aku sudah menduganya, karena apapun yang ibuku dengar, lihat dan rasakan, sudah pasti ayahku tahu. Dipanggillah aku oleh ayahku, “Kamu mau kuliah?” Itulah pertanyaan kecil yang keluar dari mulutnya dan membuatku bingung setengah mati untuk menjawabnya. Ibarat buah simalakama, jika kujawab iya, seperti yang kubayangkan, pasti aku akan dinasehati panjang dan disuruh mengaca, tapi jika kujawab tidak, pasti aku dibilang pembohong karena ibuku tidak mungkin menceritakan kebohongan kepada ayahku. Dengan sedikit keberanian dan pasrah dengan apa yang akan kuterima, akhirnya kujawab, “Iya Yah..” Dan sungguh diluar ekpektasiku, ayah justru lanjut bertanya mengenai, kuliah jurusan apa, universitas apa, dan lain sebagainya. Pembicaraan terputus ketika tiba di topik ketika kusampaikan biaya masuk ke universitas yang kuinginkan. “10 juta??”, tanya ayahku dengan nada yang mulai membuatku menggeser posisi dudukku agak menjauh darinya. “Iya Yah, 10 juta..”, jawabku pelan sekali. Bukannya marah dan mengeluarkan jurus-jurus andalan yang biasa dilontarkan kepadaku, ayahku hanya menyuruhku untuk kembali ke kamar, tanpa ada kata-kata sisipan dibelakangnya.

Pasrah tapi bingung, berkecamuk keduanya dalam otakku. Apakah ayahku mendukungku? Ataukah hanya sekedar retorika? Andaipun ayah mengiyakan untuk aku kuliah, bagaimana mungkin ayahku bisa mendapatkan uang sebesar itu, sementara batas akhir pendaftaran tinggal dua minggu lagi. Ditambah lagi adik-adikku pun juga ada yang sedang ujian dan harus mengeluarkan biaya juga. “Akkhh...Ngga mungkin...!!”, teriakku dalam hati memastikan bahwa AKU TIDAK MUNGKIN BISA KULIAH.

Deadline pendaftaran tersisa seminggu lagi, aku sudah tak pernah mau pusing memikirkan tentang kuliah lagi, keseharianku hanya kuhabiskan dengan membuat lamaran-lamaran pekerjaan dan mengirimkannya hampir ke setiap lowongan pekerjaan yang kubaca dari koran, dari internet, ataupun dari informasi teman-temanku. Sepulang ayahku kerja, ayahku yang biasanya langsung masuk ke kamarnya tiba-tiba berhenti dan duduk tepat di depanku. Lalu sebuah amplop dengan kop sebuah perusahaan yang tak begitu jelas terbaca karena terlalu kecil di sodorkan ayahku ke hadapanku. “Apaan nih Yah?”, tanyaku. “Katanya mau kuliah?”, jawab ayahku dan aku berani bersumpah bahwa baru kali ini aku melihat sedikit senyuman seumur hidup aku bertatap empat mata dengan ayahku. Dengan hati menggebu-gebu dan rasa penasaran dicampur sedikit bingung, kubukan amplopnya dan ternyata benar dugaanku, dua kali kuhitung isi didalam amplop itu benar-benar persis Rp.10.000.000,-. “Ini untuk kuliahku Yah??!”, tanyaku antusias. Anggukan kecil ayahku membuat mataku sedikit berkaca-kaca, tapi takkan kubiarkan air mataku jatuh atau akan membuat ayahku justru memarahiku karena beliau selalu bilang, “Anak laki-laki nggak boleh cengeng!”. Dengan sumringah aku berterima kasih kepada ayahku lalu menghampiri ibuku dan memeluknya erat, ibuku membalas pelukanku dan menyuruhku untuk shalat syukur. Tak lama ayahku memintaku agar segera mengurus terlebih dahulu proses pendaftarannya dan memberitahu letak uangnya disimpan di dalam lemari jika memang sudah harus membayar.
Pagi sekali aku terbangun keesokannya, bergegas aku mendatangi universitas yang kutuju dan mencari tahu prosedur pendaftarannya. Pulang dari sana otakku dipenuhi khayalan-khayalan sedang berjalan di lorong kampus, diajari seorang dosen, dan yang paling memalukan adalah aku sangat ingin ditanya oleh teman-temanku, “Aktifitas lo apa sekarang?” Lalu dengan bangga akan kujawab, “Gue kuliah..” Konyol memang, tapi begitulah yang ada di pikiranku saat itu.

Fotokopi ijazah, fotokopi KTP, dan persyaratan-persyaratan pendukung lainnya telah kulengkapi pada malam harinya. Tinggal besok aku kembali kesana dan mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa. Begitu sibuknya aku menyiapkan segala sesuatu untuk pendaftaran besok, aku sampai tak memperhatikan bahwa ada suara rintihan. Ternyata ibuku sedang meringis kesakitan menekan daerah payudaranya. Spontan aku langsung menghubungi handphone ayahku dan memintanya untuk segera pulang karena aku belum paham apa yang harus dilakukan. Begitu ayahku datang, tanpa banyak berkata-kata ayahku langsung menggendong ibuku kedalam taxinya, aku diminta ikut dengannya dan menginstrusikan kepada adik-adikku untuk tetap di dalam rumah. Berangkatlah kami ke rumah sakit. Di ruang UGD (Unit Gawat Darurat), ayahku menjelaskan bahwa hal ini sudah diprediksikan akan terjadi, dimana penyakit ibuku yang tadinya sempat kukira sudah sembuh akan kambuh dan semakin parah. Tak lama ayahku dipanggil oleh dokter yang menangani ibuku. Keluar dari ruangan dokter, ayahku terlihat pucat namun tetap bergerak dengan cepat menghubungi beberapa orang –entah siapa- dengan handphonenya. Selesai menelpon, ayahku duduk di sebelahku. Ternyata barusan saja beliau diberitahu oleh dokter bahwa ibu harus segera menjalani perawatan insentif, dan biaya yang dibutuhkan adalah dua puluh juta rupiah. Ayahku segera menghubungi kakak-kakaknya untuk meminta bantuan dana. Dana yang terkumpul dari kakak-kakaknya hanya sekitar tujuh juta rupiah. Beliaupun hendak menghubungi perusahaan taxi tempatnya bekerja untuk mengabari kondisi ini dan memohon bantuan dana sesegera mungkin. Malam itu kami lalui dengan sangat cemas, bergantian tidur sementara yang satu mengawasi kondisi ibuku yang kian kritis.

Keesokan paginya beberapa rekan sekerja dari perusahaan taxi ayahku datang dan memberikan sebuah amplop yang kuyakin adalah dana bantuan dari perusahaan atau dari teman-teman seprofesinya, total uang yang terkumpul berikut dana yang ditransfer pakde-budeku (kakak dari ayahku) baru sepuluh juta rupiah, masih kurang sepuluh juta lagi untuk biaya pengobatan ibuku. Wajah ayah tampak jelas sangat kalut, seakan benar-benar putus asa. Dalam keheningan saat itu, spontan terlintas uang pendaftaran untuk kuliahku. “Yah, pakai aja uang pendaftaran kuliahku..”, kataku mencoba menenangkan. Bukan ayahku jika ia langsung menerima begitu saja tawaranku, dengan penuh usaha beliau coba memastikan apakah aku akan baik-baik saja jika uang untuk mengabulkan impianku kuliah itu harus dikorbankan demi nyawa ibuku. “Iya yah, aku nggak apa-apa, yang penting Ibu selamat dulu”, lirih ku coba jelaskan perasaanku. Tertutup sudah semua dana yang dibutuhkan.

Hampir seminggu ibuku di rumah sakit, aku, ayah dan adik-adikku bergantian menemaninya. Hingga tiba-tiba ketika aku sedang di rumah, suara taxi ayahku terdengar mendekat lalu berhenti, betapa riangnya hatiku melihat ayah dan adikku membopong ibu keluar dari taxi ayahku. “Alhamdulillah, ibu sudah sembuh ya?”, tanyaku setengah berteriak. Tak ada yang menjawab, mereka sibuk memapah ibuku ke dalam rumah, akupun dengan sigap membantu menggantikan posisi adikku yang memegang ibuku disebelah kirinya. Sesampainya di kamar, ibu langsung menanyakan tentang kuliahku, proses pendaftarannya, dan sebagainya. Aku tak mau membuatnya memikirkan banyak hal, dengan ringan aku hanya menjawab bahwa semua lancar.

Tiga hari berlalu sejak kepulangan ibu kembali ke rumah. Tak kusadari sebelumnya bahwa mendengar ibuku tertawa dengan sekejap meluluhkan penat dalam otakku yang masih belum jelas akan kemana perjalanan hidupku selanjutnya. Hingga pada sore itu, mendadak ibu tak lagi bergerak dan bersuara, hanya tertidur dengan mata kosong terbuka dan nafas yang tersengal-sengal. Ayahku seperti sudah tidak kaget lagi, beliau justru memintaku mengumpulkan adik-adik dan menghubungi beberapa saudara-saudara ibuku untuk segera berkumpul dirumah. Agak cemas perasaanku ketika aku dan adik-adikku diminta ayahku untuk membacakan surat Yasin disamping ibuku. Ada apa? Kenapa ayah begitu tenang? Bukankah ibu sudah sembuh?

Sabtu, 8 September 2001, tepat pukul 21:39WIB, setelah beberapa jam kami terus membacakan Yasin, akhirnya ibuku menarik nafas terakhirnya dan pergi untuk selamanya. Tak dapat kutahan air mata dan tak mungkin juga aku menangis di depan adik-adikku yang sudah sejak sore tadi menangis, akupun beranjak ke dapur, duduk bersimpuh dan menangis deras tanpa suara. “Kenapa ya Allah? Kenapa ibu masih diambil juga?”, tangisku dalam hati mempertanyakan keadilan bagiku. Sungguh hari itu adalah hari tersuram dalam hidupku. Sepertinya semua kebahagiaan turut lenyap bersama dengan kepergiannya. Baru kutahu ternyata kepulangannya dari rumah sakit bukan karena sudah sembuh, melainkan karena dokter sudah angkat tangan dan meminta ayahku untuk membawanya pulang saja. Ayahku lebih terpukul, kurang lebih delapan bulan sejak ibuku meninggal, ayah tak lagi bekerja, sepertinya beliau lebih kehilangan kehidupannya. Untunglah aku saat itu sudah diterima bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Kawasan Industri di bilangan Jakarta Timur. Dengan gaji yang kuterima, aku biayai semua keperluan hidup ayah dan adik-adikku, juga sekolah mereka. Aku tak lagi memikirkan kepentinganku sendiri. Gaji kusisihkan hanya untuk ongkos kerjaku, sisanya kuserahkan semua ke ayahku untuk keperluan sehari-hari. Kuyakin sangat berat ayahku merasakan kepedihan karena kepergian ibuku, hingga sudah tak lagi tersisa dorongan untuk melakukan hal-hal lain, salah memang terpuruk terlalu lama, apalagi mengingat masih ada adik-adikku yang perlu dibiayai, tapi itulah yang terjadi, dan aku tak sekalipun berani mengungkit masalah ini, kasih sayangku dan besarnya cintaku terhadap ibuku seakan terus menguatkanku untuk selalu ikhlas menjalani segalanya, bahkan terkadang aku masih merasa ibuku selalu ada di sampingku untuk membisikkan kata-kata untuk menenangkanku.

Empat belas tahun berlalu sejak kepergian ibuku, kini aku telah menikah dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri. Ayahku terkena stroke sejak tiga tahun silam, sebelah tubuhnya lumpuh. Sekalipun sudah berkeluarga, aku selalu masih merasa ibuku berbicara dengan hatiku, “Nak, titip ayah ya..”. Dan hal itu yang membuatku semakin ikhlas merawat ayahku hingga kini. Apapun akan kulakukan demi membahagiakan ibu, hanya satu yang kumohon, “Jangan jauh-jauh dariku ya Bu..”

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co


Other products :

Share this product :

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca artikel ini.
Saran, kritik dan testimoni Anda akan sangat berarti bagi blog kami..

Regards,
admin

 
ionlinerz corp © 2010-2017 | All Rights Reserved